PENGEMBANGAN MODUL MATEMATIKA BERBASIS KONTEKSTUAL TERINTEGRASI KEARIFAN LOKAL PURWOREJO UNTUK SEKOLAH DASAR
PENGEMBANGAN MODUL MATEMATIKA
BERBASIS KONTEKSTUAL TERINTEGRASI KEARIFAN LOKAL PURWOREJO UNTUK SEKOLAH DASAR
Tri Fitri Heriyanto
E-mail: tfheriyanto@gmail.com
Program Studi Pendidikan Guru
Sekolah Dasar
Universitas Muhammadiyah Purworejo
Abstrak
Modul pembelajaran
adalah bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencangkup
isi materi, metode, dan evaluasi yang dapat digunakan secara mandiri untuk
mencapai kompetensi yang diharapkan. Arikel ini disusun guna mengkaji
pengembangan modul pembelajaran khususnya pada mata pelajaran matematika. Artikel
ini disusun menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan studi literatur
atau kepustakaan. Data dalam artikel ini diambil dari fakta-fakta yang
tersimpan dalam bentuk jurnal, artikel, dan buku elektronik. Data-data tersebut digunakan sebagai rujukan
untuk mengembangkan modul matematika berbasis kontekstual terintegrasi kearifan
lokal khas Purworejo untuk kelas II sekolah dasar.
Kata Kunci: Modul, Matematika, Kontekstual,
Kearifan Lokal
PENDAHULUAN
Pendidikan sangat
penting bagi setiap individu baik bagi kepentingan pribadi maupun dalam
kedudukannya sebagai warga negara. Pendidikan
adalah kebutuhan hidup yang sangat mendasar bagi manusia, karena dengan
pendidikan manusia dapat mengembangkan potensi yang ada pada dirinya melalui
proses pembelajaran sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara garis
besar tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan individu, baik jasmani
maupun rohani secara optimal, agar mampu meningkatkan hidup dan kehidupan diri,
keluarga, serta masyarakat. Program pendidikan melalui proses pembelajaran di
sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu:
peserta didik, kurikulum, tenaga kependidikan, biaya, sarana dan prasarana
serta faktor lingkungan. Apabila hal tersebut dapat terpenuhi maka dapat
memperlancar proses pembelajaran sehingga akan menunjang pencapaian hasil
belajar yang maksimal yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu pendidikan. Pada
dasarnya tercapainya tujuan pembelajaran atau hasil pengajaran sangat
dipengaruhi oleh tingkat kemampuan berpikir kreatif matematis peserta didik dalam
memecahkan suatu masalah didalam proses belajar mengajar. Kemampuan berpikir kreatif matematis sangat
diperlukan dalam rangka untuk melatih peserta didik memecahkan masalah yang
berhubungan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Masalah-masalah tersebut
biasanya tertuang dalam soal-soal dan pembahasan pada mata pelajaran khususnya
matematika.
Matematika adalah
disiplin ilmu yang telah dipelajari semenjak pendidikan dasar dan membantu
perkembangan disiplin ilmu lain seperti fisika, kimia, biologi, ekomomi dan
lainya. Dalam perkembangannya, banyak konsep matematika diperlukan untuk
membantu menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari yang dihadapi,
seperti halnya untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan
sosial, ekonomi, dan alam. Dalam belajar metematika seseorang dilatih untuk
berpikir kreatif, kritis, jujur dan dapat mengaplikasikan ilmu matematika dalam
menyelesaikan suatu permasalahan dalam kehidupan sehari hari maupun dalam
disiplin ilmu lainnya. Namun masih banyak peserta didik yang beranggapan bahwa
matematika adalah pelajaran yang sulit, menakutkan, sekaligus membosankan. Maka
dari itu, perlu adanya media pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi
belajar peserta didik. Salah satu media yang dapat digunakan adalah modul
pembelajaran berbasis kontekstual.
Permasalahan lain yang
terjadi saat ini, seiring berkembangnya zaman adalah lunturnya minat generasi muda
terhadap budaya tradisional atau kearifan lokal yang mereka miliki. Seni dan
budaya tradisional terus terkikis dan banyak yang tidak peduli tentang
pentingnya seni dan budaya bagi anak cucu yang akan datang. Banyak generasi
muda yang lebih memilih budaya barat daripada budaya tradisional dan bahkan
kurang mengetahui kearifan lokal apa saja yang dimiliki daerah asal atau tempat
tinggalnya sendiri. Hal miris yang dapat kita ketahui bahwa zaman sekarang
banyak wisatawan asing yang mempelajari seni dan budaya tradisonal. Mereka
menganggap budaya tradisional yang menurut generasi muda tidak ngetren dan
terkesan kuno malah berbanding terbalik dengan wisatawan asing yang menganggap
bahwa hal tersebut unik. Banyak dari mereka yang ingin mempelajari lebih dalam
tentang seni dan budaya tradisional. Itulah mengapa sangat penting untuk
dikenalkannya budaya-budaya tradisional kepada generasi-generasi penerus bangsa
salah satunya melalui pendidikan dasar. Adanya pengenalan kearifan lokal dalam
pendidikan formal, misalnya pada jenjang sekolah dasar, akan meningkatkan minat
dan pengetahuan peserta didik terhadap budaya lokal daerahnya masing-masing dan
mengembangkan budaya tersebut sehingga mendapatkan tempat di zaman yang serba
maju seperti sekarang. Kearifan lokal tersebut dapat diintegrasikan ke dalam
sebuah modul yang nantinya akan digunakan dalam pembelajaran.
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Kearifan Lokal
Kearifan lokal menurut
Ratna, (dalam Arkanudin, dkk. 2019:20) adalah semen pengikat dalam bentuk
kebudayaan yang sudah ada sehingga didasari keberadaan. Kearifan lokal dapat
didefinisikan sebagai suatu budaya yang diciptakan oleh aktor-aktor lokal
melalui proses yang berulang-ulang, melalui internalisasi dan interpretasi
ajaran agama dan budaya yang disosialisasikan dalam bentuk norma-norma dan
dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat. Kearifan lokal
mengacu pada berbagai kekayaan budaya yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah
masyarakat yang dikenal, dipercayai, dan diakui sebagai elemen-elemen penting
yang mampu mempertebal kohesi sosial di tengah masyarakat. Kearifan lokal bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan dan
menciptakan kedamaian Sibarani, (dalam Maria Banda, 2016). Sibarani juga
mengemukakan bahwa kearifan lokal digali dari produk kultural yang menyangkut
hidup dan kehidupan komunitas pemiliknya, misalnya sistem nilai, kepercayaan
dan agama, etos kerja, bahkan bagaimana dinamika itu berlangsung. Sedangkan menurut
Zakaria, (dalam Muh. Aris Marfai. 2019:34) menyatakan bahwa kearifan lokal
merupakan pengetahuan kebudayaan yang dimiliki kelompok masyarakat tertentu
mencangkup model-model pengelolaan sumber daya alam secara lestari termasuk
bagaimana menjaga hubungan dengan alam melalui pemanfaatan yang bijaksana dan
bertanggungjawab.
Berdasarkan beberapa
pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal adalah kekayaan budaya
yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah masyarakat melalui proses yang
berulang-ulang, melalui internalisasi dan interpretasi ajaran agama dan budaya
yang disosialisasikan dalam bentuk nilai, kepercayaan, agama, dan etos kerja,
serta pengetahuan kebudayaan yang dimiliki kelompok masyarakat tertentu yang
dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat untuk mengolah
sumber daya alam secara lestari guna meningkatan kesejahteraan dan menciptakan
kedamaian.
Kajian Mengenai Pendekatan
Kontekstual
Masnur Muchlis (dalam
jurnal Annisah Kurniati, 2016) mengemukakan bahwa model pembelajaran yang
menggunakan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sehari-hari. Nurhadi (dalam jurnal Ketut Suastika, 2019)
juga menekankan bahwa, melalui pendekatan kontekstual, siswa diharapkan belajar
melalui ‘mengalami’ dan bukan ‘menghafal’. Pendekatan kontekstual dapat
menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan diinginkan oleh siswa. Selain
itu dalam implementasinya, pembelajaran kontekstual melibat tujuh komponen
diantaranya konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan
(Inquiry), masyarakat belajar (Learning community), pemodelan (Modeling),
refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya, Sanjaya (dalam jurnal Hani
Handayani, 2015).
Berdasarkan beberapa
pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual adalah konsep
belajar yang mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata
siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari melalui proses mengalami
sendiri hal yang dipelajari atau melalui proses belajar yang aktif yang
mengajak siswa untuk membangun sendiri pengetahuannya, aktif bertanya, aktif
menemukan pengetahuannya atau konsep yang sedang dipelajari, bekerja bersama dan
belajar bersama dalam suatu masyarakat belajar, melakukan pemodelan, dan
melakukan penialaian otentik, sehingga tercipta pembelajaran yang lebih
bermakna dan menyenangkan bagi siswa.
Pengertian Modul Pembelajaran
Menurut Subroto, (dalam
jurnal Annisah Kurniati. 2016) Modul adalah suatu kesatuan yang utuh, terdiri
dari serangkaian kegiatan belajar, yang secara nyata telah memberikan hasil
belajar yang efektif dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan secara jelas
dan spesifik. Modul pembelajaran merupakan satu unit program belajar mengajar
terkecil yang unsur-unsur modul terdiri dari pedoman guru, lembar kegiatan
siswa, lembar kerja, kunci lembar jawaban, lembaran tes, kunci lembaran tes,
Joseph Mbulu (dalam Fatrima Santri. 2019:8). Hal ini sejalan dengan Anwar,
(dalam Fatrima Santri. 2019:8) yang mengatakan bahwa modul pembelajaran adalah
bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencangkup isi
materi, metode, dan evaluasi yang dapat digunakan secara mandiri untuk mencapai
kompetensi yang diharapkan. Daryanto & Dwicahyono (dalam Tri Hidayati. 2018:84) juga menyebutkan bahwa
karakteristik modul pembelajaran diantaranya adalah: (1) Self instruction,
Siswa mampu membelajarkan diri sendiri, tidak tergantung pada pihak lain. (2)
Self contained, Seluruh materi pembelajaran dari satu unit kompetensi yang
dipelajari terdapat didalam satu modul utuh. (3) Stand alone, Modul yang
dikembangkan tidak tergantung pada media lain atau tidak harus digunakan
bersama-sama dengan media lain. (4) Adaptive, Modul hendaknya memiliki daya
adaptif yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. (5) User
friendly, modul hendaknya memiliki kaidah akrab/bersahabat dengan pemakainya.
Berdasarkan pendapat di
atas, dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran adalah suatu bentuk bahan ajar
yang terdiri dari serangkaian kegiatan belajar meliputi pedoman guru, lembar
kegiatan siswa, lembar kerja, kunci lembar jawaban, lembaran tes, kunci
lembaran tes yang dikemas secara sistematis, jelas, dan menarik yang dibuat
dengan memperhatikan karakteristik modul pembelajaran serta penggunaan bahasa
yang mudah dipahami sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik
sehingga mudah untuk dipelajari secara mandiri.
Kajian Mengenai Penggunaan Modul
Pembelajaran
Modul merupakan satu
unit program belajar mengajar terkecil yang unsur-unsur modul terdiri dari
pedoman guru, lembar kegiatan siswa, lembar kerja, kunci lembar jawaban,
lembaran tes, kunci lembaran tes, Joseph Mbulu (dalam Fatrima Santri. 2019:8).
Berdasarkan penelitian
Fhina Haryanti dengan judul Pengembangan Modul Matematika Berbasis Discovery
Learning berbantuan Flipbook Maker untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman
Konsep pada Materi Segitiga. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan
modul matematika yang dikembangkan lebih baik dibandingkan dengan model
konvensional pada proses pembelajaran karena dapat meningkatkan rata-rata hasil
belajar siswa. Penelitian yang dilakukan Ketut Suastika dengan judul
Pengembangan Modul Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kontekstual,
diperoleh hasil bahwa dengan adanya modul siswa dapat memahami konsep pelajaran
dengan baik sesuai dengan gaya belajarnya sendiri. Penelitian yang dilakukan
oleh Annisah Kurniati dengan judul Pengembangan Modul Matematika Berbasis
Kontekstual Terintegrasi Ilmu Keislaman, menunjukkan bahwa pembelajaran
matematika yang menggunakan modul lebih baik dibandingkan kelas yang tidak
menggunakan modul.
Berdasarkan penelitian
yang relevan yang
pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya di atas, dapat disimpulkan
bahwa penggunaan modul sebagai bahan ajar pada pembelajaran matematika tepat
dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan menjadikan pembelajaran lebih
efesien dan efektif. Sehingga, dari penelitian tersebut dapat dilakukan sebuah
penelitian kualitatif mengenai Pengembangan Modul Matematika Berbasis
Kontekstual Terintegrasi Kearifan Lokal Purworejo pada Materi Pengukuran Kelas
II di SD Muhammadiyah Bayan.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan
dalam artikel ini adalah metode kulitatif deskriptif studi kepustakaan. Metode penelitian
kualitatif yaitu suatu prosedur penelitian yang menggunakan data deskriptif
berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang dapat
diamati. Kualitatif berarti sesuatu yang berkaitan dengan aspek kualitas,
nilai, atau makna yang terdapat dibalik fakta. Libarnkin & Kurdziel (dalam Muh. Fitrah & Luthfiyah. 2018:44). Sedangkan
menurut Indriantoro (dalam jurnal Tio Fanny. 2016) Penelitian kualitatif merupakan
penelitian yang lebih menspesifikasikan kepada pemahaman atas masalah-masalah
sosial berdasarkan keadaan riil yang bersifat kompleks dan rinci. Metode deskriptif merupakan metode yang berfokus pada
meneliti sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu pemikiran,
ataupun suatu peristiwa pada masa sekarang yang bertujuan untuk mendeskripsikan
atau menggambarkan secara akurat, faktual, serta sistematis tentang
fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diteliti. Studi
kepustakaan berarti teknik pengumpulan data dengan membuat studi penelaahan
terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan
berhubungan dengan masalah yang diteliti. Zed, (dalam jurnal Tio Fanny. 2016).
Alasan bagi peneliti untuk menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif
studi kepustakaan ini karena landasan untuk melaksanakan penelitian kualitatif
berorientasi pada teori yang sudah ada sebelumnya.
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam artikel
ini menggunakan data primer dan sekunder yang diperoleh dari fakta yang
tersimpan dalam bentuk jurnal, artikel, thesis, buku elektronik dan sebagainya
yang semuanya itu memberikan informasi yang lebih luas bagi proses penyusunan
artikel. Langkah-langkah studi kepustakaan (Amelia
Zulyanti & Nurliana. 2019:48) meliputi: 1) formulasi permasalahan.
Memilih topik yang sesuai dan interest. Permasalahan ditulis dengan
lengkap dan tepat. 2) menemukan literatur yang relevan dengan penelitian. 3)
evaluasi data. 4) analisis dan interpretasikan.
PEMBAHASAN
Artikel ini disusun
menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan studi literatur atau
kepustakaan. Data dalam artikel ini diambil dari fakta-fakta yang tersimpan
dalam bentuk jurnal, artikel, buku elektronik dan sebagainya yang semuanya itu
memberikan informasi yang lebih luas bagi proses penyusunan artikel.
Berdasarkan analisis data terhadap pengaruh pengembangan modul pembelajaran
khususnya modul matematika dalam upaya untuk peningkatan kualitas hasil
pembelajaran oleh beberapa peneliti sebelumnya. Didapatkan hasil bahwasannya
modul matematika yang dikembangkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran
dibandingkan model pembelajaran konvensional yang tidak menggunakan modul dalam
pembelajarannya. Jadi, tepat rasanya jika nantinya penulis akan melakukan
penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan modul matematika dengan memberikan
beberapa inovasi dalam modul tersebut agar pembelajaran menjadi lebih efektif
dan menyenangkan. Inovasi tersebut diperlukan karena matematika masih menjadi
pelajaran yang dianggap sulit dan menakutkan bagi kebanyakan peserta didik,
sehingga berpengaruh pada kurang maksimalnya hasil pembelajaran yang didapat.
Salah satu langkah inovasi yang akan penulis lakukan dalam rangka pengembangan
modul tersebut adalah dengan mengangkat kearifan lokal untuk diintegrasikan ke
dalam modul matematika yang akan dikembangkan. Pentingnya penanaman sikap cinta
terhadap produk dan budaya lokal agaknya penting untuk digalakkan sejak dini.
Mengingat saat ini banyak generasi muda yang lebih memilih budaya barat dibandingkan
budayanya sendiri (dikutip dari kompas.com: 21 Mei 2019). Beberapa bahkan
kurang peduli terhadap kearifan lokal yang dimiliki oleh daerahnya sendiri.
Itulah mengapa penulis tertarik untuk mengangkat kearifan lokal dalam
pengembangan modul matematika sebagai upaya untuk mengenalkan peserta didik
terhadap kearifan lokal yang mereka miliki dan penanaman rasa cinta terhadap
produk dan budaya lokal yang daerahnya miliki.
Modul yang dikembangkan
tersebut nantinya akan memasukkan unsur-unsur kearifan lokal khas Purworejo
yang dibuat dalam bentuk kartun yang diintegrasikan dengan materi pengukuran
untuk kelas II sekolah dasar. Modul dibuat dengan pendekatan kontekstual dengan
menghadirkan cerita-cerita singkat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Pemilihan pendekatan kontekstual dimaksudkan agar peserta didik dapat belajar
sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan mereka, sehingga diharapkan peserta
didik akan dapat menemukan penyelesaian dari masalah-masalah yang mereka
hadapi. Cerita dalam modul tersebut dibuat dengan sedemikian rupa disesuaikan
dengan dunia anak agar peserta didik semakin tertarik dengan modul yang
dikembangkan. Bahasa yang digunakan dalam modul tersebut nantinya dibuat
sesederhana mungkin sehingga peserta didik dapat dengan mudah memahami materi
yang sedang ia baca atau pelajari. Bahasa yang dibuat sederhana tersebut juga
memungkinkan peserta didik untuk memahami materi secara mandiri. Materi dalam
modul tersebut adalah materi tentang pengukuran, yakni panjang, waktu, dan berat.
Materi-materi tersebut diintegrasikan dengan kearifan lokal khas Purworejo
dengan menggunakan cerita anak sebagai penghubungnya. Jadi, nantinya modul
tersebut memungkinkan peserta didik untuk tanpa sadar belajar dua hal yang
berbeda. Semua ilustrasi dan gambar dibuat semenarik mungkin dalam bentuk
gambar kartun dua dimensi. Penggunaan kartun diyakini dapat meningkatkan minat
baca peserta didik dan membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan analisis
data terhadap pengaruh pengembangan modul pembelajaran khususnya modul
matematika dalam upaya untuk peningkatan kualitas hasil pembelajaran oleh
beberapa peneliti sebelumnya. Didapatkan hasil bahwasannya modul matematika
yang dikembangkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dibandingkan model
pembelajaran konvensional yang tidak menggunakan modul dalam pembelajarannya.
Sehingga, tepat rasanya jika nantinya penulis akan melakukan penelitian lebih
lanjut untuk mengembangkan modul matematika dengan memberikan beberapa inovasi
dalam modul tersebut agar pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan. Diantaranya
inovasi yang akan penulis lakukan dalam rangka pengembangan modul tersebut
adalah dengan mengangkat kearifan lokal khas Purworejo untuk diintegrasikan ke
dalam modul matematika yang akan dikembangkan. Modul dibuat dengan pendekatan
kontekstual dengan menghadirkan cerita-cerita singkat yang menarik berkaitan
dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Saran
Beberapa penelitian
yang telah penulis paparkan dalam artikel ini menunjukkan bahwa pengembangan
modul yang dilakukan beberapa peneliti sebelumnya dapat meningkatkan hasil
pembelajaran. Oleh karenanya penelitian tersebut dapat dijadikan rujukan atau
dasar untuk menambah pengalaman maupun pengetahuan baru dalam mengembangkan
media pembelajaran guna meningkatkan kualitas pembelajaran itu sendiri.
DAFTAR
PUSTAKA
Amelia Zulyanti & Nurliana.
2019. Strategi dan Teknik Penulisan Karya Tulis Ilmiah dan Publikasi. Yogyakarta:
Deepublish
Annisah Kurniati. 2016.
Pengembangan Modul Matematika Berbasis Kontekstual Terintegrasi Ilmu Keislaman.
Vol.4, No.1
Arkanudin, dkk. 2019. Perempuan
Madura: Kearifan Lokal dalam Perawatan Reproduksi Pasca Nifas (Studi di
Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat). Yogyakarta: Deepublish
Fatrima Santri. 2019. Pengembangan
Modul Pembelajaran Aljabar Elementer di Program Studi Tadris Matematika IAIN
Bengkulu. Bengkulu: CV. Zigie Utama
Fhina Haryanti. 2016. Pengembangan
Modul Matematika Berbasis Discovery Learning berbantuan Flipbook
Maker untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep pada Materi Segitiga.
Vol. I, No. 2
Hani Handayani. 2015. Pengaruh
Pembelajaran Kontekstual terhadap Kemampuan Pemahan dan Representasi Matematis
Siswa Sekolah Dasar. Volume I Nomor 1
Ketut Suastika. 2019. Pengembangan
Modul Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kontekstual. Volum 4 Nomor 2
Maria
Matildis Banda. 2016. UPAYA KEARIFAN LOKAL dalam Menghadapi Tantangan Perubahan
Kebudayaan. Jurnal Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.
Muh. Aris Marfai. 2019. Pengantar
Etika Lingkungan dan Kearifan Lokal. Yogyakarta: UGM Press
Muh. Fitrah & Luthfiyah. 2018. Metodologi
Penelitian: penelitian kualitatif, tindakan kelas, dan studi kasus.
Sukabumi: CV Jejak (Jejak Publisher)
Tio Fanny Aritonang. 2016. REVIEW
IMPLEMENTASI TAX AMNESTY (Studi Literatur Implementasi Tax Amnesty di Indonesia
dan di Beberapa Negara Lainnya). Volum 4 Nomor 2
Tri Hidayati. 2018. Pengembangan
Perangkat Pembelajaran Matematika dengan Suplemen History of Mathematics.
Purwokerto: CV. Pena Persada
Komentar
Posting Komentar