PENGEMBANGAN MODUL MATEMATIKA BERBASIS KONTEKSTUAL TERINTEGRASI KEARIFAN LOKAL PURWOREJO UNTUK SEKOLAH DASAR

 

PENGEMBANGAN MODUL MATEMATIKA BERBASIS KONTEKSTUAL TERINTEGRASI KEARIFAN LOKAL PURWOREJO UNTUK SEKOLAH DASAR

 

Tri Fitri Heriyanto

E-mail: tfheriyanto@gmail.com

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Universitas Muhammadiyah Purworejo

 

Abstrak

Modul pembelajaran adalah bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencangkup isi materi, metode, dan evaluasi yang dapat digunakan secara mandiri untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Arikel ini disusun guna mengkaji pengembangan modul pembelajaran khususnya pada mata pelajaran matematika. Artikel ini disusun menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan studi literatur atau kepustakaan. Data dalam artikel ini diambil dari fakta-fakta yang tersimpan dalam bentuk jurnal, artikel, dan buku elektronik.  Data-data tersebut digunakan sebagai rujukan untuk mengembangkan modul matematika berbasis kontekstual terintegrasi kearifan lokal khas Purworejo untuk kelas II sekolah dasar.

Kata Kunci: Modul, Matematika, Kontekstual, Kearifan Lokal

 

PENDAHULUAN

Pendidikan sangat penting bagi setiap individu baik bagi kepentingan pribadi maupun dalam kedudukannya sebagai warga negara. Pendidikan adalah kebutuhan hidup yang sangat mendasar bagi manusia, karena dengan pendidikan manusia dapat mengembangkan potensi yang ada pada dirinya melalui proses pembelajaran sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara garis besar tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan individu, baik jasmani maupun rohani secara optimal, agar mampu meningkatkan hidup dan kehidupan diri, keluarga, serta masyarakat. Program pendidikan melalui proses pembelajaran di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu: peserta didik, kurikulum, tenaga kependidikan, biaya, sarana dan prasarana serta faktor lingkungan. Apabila hal tersebut dapat terpenuhi maka dapat memperlancar proses pembelajaran sehingga akan menunjang pencapaian hasil belajar yang maksimal yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu pendidikan. Pada dasarnya tercapainya tujuan pembelajaran atau hasil pengajaran sangat dipengaruhi oleh tingkat kemampuan berpikir kreatif matematis peserta didik dalam memecahkan suatu masalah didalam proses belajar mengajar.  Kemampuan berpikir kreatif matematis sangat diperlukan dalam rangka untuk melatih peserta didik memecahkan masalah yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Masalah-masalah tersebut biasanya tertuang dalam soal-soal dan pembahasan pada mata pelajaran khususnya matematika.

Matematika adalah disiplin ilmu yang telah dipelajari semenjak pendidikan dasar dan membantu perkembangan disiplin ilmu lain seperti fisika, kimia, biologi, ekomomi dan lainya. Dalam perkembangannya, banyak konsep matematika diperlukan untuk membantu menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari yang dihadapi, seperti halnya untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam. Dalam belajar metematika seseorang dilatih untuk berpikir kreatif, kritis, jujur dan dapat mengaplikasikan ilmu matematika dalam menyelesaikan suatu permasalahan dalam kehidupan sehari hari maupun dalam disiplin ilmu lainnya. Namun masih banyak peserta didik yang beranggapan bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit, menakutkan, sekaligus membosankan. Maka dari itu, perlu adanya media pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Salah satu media yang dapat digunakan adalah modul pembelajaran berbasis kontekstual.

Permasalahan lain yang terjadi saat ini, seiring berkembangnya zaman adalah lunturnya minat generasi muda terhadap budaya tradisional atau kearifan lokal yang mereka miliki. Seni dan budaya tradisional terus terkikis dan banyak yang tidak peduli tentang pentingnya seni dan budaya bagi anak cucu yang akan datang. Banyak generasi muda yang lebih memilih budaya barat daripada budaya tradisional dan bahkan kurang mengetahui kearifan lokal apa saja yang dimiliki daerah asal atau tempat tinggalnya sendiri. Hal miris yang dapat kita ketahui bahwa zaman sekarang banyak wisatawan asing yang mempelajari seni dan budaya tradisonal. Mereka menganggap budaya tradisional yang menurut generasi muda tidak ngetren dan terkesan kuno malah berbanding terbalik dengan wisatawan asing yang menganggap bahwa hal tersebut unik. Banyak dari mereka yang ingin mempelajari lebih dalam tentang seni dan budaya tradisional. Itulah mengapa sangat penting untuk dikenalkannya budaya-budaya tradisional kepada generasi-generasi penerus bangsa salah satunya melalui pendidikan dasar. Adanya pengenalan kearifan lokal dalam pendidikan formal, misalnya pada jenjang sekolah dasar, akan meningkatkan minat dan pengetahuan peserta didik terhadap budaya lokal daerahnya masing-masing dan mengembangkan budaya tersebut sehingga mendapatkan tempat di zaman yang serba maju seperti sekarang. Kearifan lokal tersebut dapat diintegrasikan ke dalam sebuah modul yang nantinya akan digunakan dalam pembelajaran.

 

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Kearifan Lokal

Kearifan lokal menurut Ratna, (dalam Arkanudin, dkk. 2019:20) adalah semen pengikat dalam bentuk kebudayaan yang sudah ada sehingga didasari keberadaan. Kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai suatu budaya yang diciptakan oleh aktor-aktor lokal melalui proses yang berulang-ulang, melalui internalisasi dan interpretasi ajaran agama dan budaya yang disosialisasikan dalam bentuk norma-norma dan dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat. Kearifan lokal mengacu pada berbagai kekayaan budaya yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah masyarakat yang dikenal, dipercayai, dan diakui sebagai elemen-elemen penting yang mampu mempertebal kohesi sosial di tengah masyarakat. Kearifan lokal  bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan dan menciptakan kedamaian Sibarani, (dalam Maria Banda, 2016). Sibarani juga mengemukakan bahwa kearifan lokal digali dari produk kultural yang menyangkut hidup dan kehidupan komunitas pemiliknya, misalnya sistem nilai, kepercayaan dan agama, etos kerja, bahkan bagaimana dinamika itu berlangsung. Sedangkan menurut Zakaria, (dalam Muh. Aris Marfai. 2019:34) menyatakan bahwa kearifan lokal merupakan pengetahuan kebudayaan yang dimiliki kelompok masyarakat tertentu mencangkup model-model pengelolaan sumber daya alam secara lestari termasuk bagaimana menjaga hubungan dengan alam melalui pemanfaatan yang bijaksana dan bertanggungjawab.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal adalah kekayaan budaya yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah masyarakat melalui proses yang berulang-ulang, melalui internalisasi dan interpretasi ajaran agama dan budaya yang disosialisasikan dalam bentuk nilai, kepercayaan, agama, dan etos kerja, serta pengetahuan kebudayaan yang dimiliki kelompok masyarakat tertentu yang dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat untuk mengolah sumber daya alam secara lestari guna meningkatan kesejahteraan dan menciptakan kedamaian.

 

Kajian Mengenai Pendekatan Kontekstual

Masnur Muchlis (dalam jurnal Annisah Kurniati, 2016) mengemukakan bahwa model pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Nurhadi (dalam jurnal Ketut Suastika, 2019) juga menekankan bahwa, melalui pendekatan kontekstual, siswa diharapkan belajar melalui ‘mengalami’ dan bukan ‘menghafal’. Pendekatan kontekstual dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan diinginkan oleh siswa. Selain itu dalam implementasinya, pembelajaran kontekstual melibat tujuh komponen diantaranya konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning community), pemodelan (Modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya, Sanjaya (dalam jurnal Hani Handayani, 2015).

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari melalui proses mengalami sendiri hal yang dipelajari atau melalui proses belajar yang aktif yang mengajak siswa untuk membangun sendiri pengetahuannya, aktif bertanya, aktif menemukan pengetahuannya atau konsep yang sedang dipelajari, bekerja bersama dan belajar bersama dalam suatu masyarakat belajar, melakukan pemodelan, dan melakukan penialaian otentik, sehingga tercipta pembelajaran yang lebih bermakna dan menyenangkan bagi siswa.

 

Pengertian Modul Pembelajaran

Menurut Subroto, (dalam jurnal Annisah Kurniati. 2016) Modul adalah suatu kesatuan yang utuh, terdiri dari serangkaian kegiatan belajar, yang secara nyata telah memberikan hasil belajar yang efektif dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan secara jelas dan spesifik. Modul pembelajaran merupakan satu unit program belajar mengajar terkecil yang unsur-unsur modul terdiri dari pedoman guru, lembar kegiatan siswa, lembar kerja, kunci lembar jawaban, lembaran tes, kunci lembaran tes, Joseph Mbulu (dalam Fatrima Santri. 2019:8). Hal ini sejalan dengan Anwar, (dalam Fatrima Santri. 2019:8) yang mengatakan bahwa modul pembelajaran adalah bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencangkup isi materi, metode, dan evaluasi yang dapat digunakan secara mandiri untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Daryanto & Dwicahyono (dalam Tri Hidayati. 2018:84) juga menyebutkan bahwa karakteristik modul pembelajaran diantaranya adalah: (1) Self instruction, Siswa mampu membelajarkan diri sendiri, tidak tergantung pada pihak lain. (2) Self contained, Seluruh materi pembelajaran dari satu unit kompetensi yang dipelajari terdapat didalam satu modul utuh. (3) Stand alone, Modul yang dikembangkan tidak tergantung pada media lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media lain. (4) Adaptive, Modul hendaknya memiliki daya adaptif yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. (5) User friendly, modul hendaknya memiliki kaidah akrab/bersahabat dengan pemakainya.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran adalah suatu bentuk bahan ajar yang terdiri dari serangkaian kegiatan belajar meliputi pedoman guru, lembar kegiatan siswa, lembar kerja, kunci lembar jawaban, lembaran tes, kunci lembaran tes yang dikemas secara sistematis, jelas, dan menarik yang dibuat dengan memperhatikan karakteristik modul pembelajaran serta penggunaan bahasa yang mudah dipahami sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik sehingga mudah untuk dipelajari secara mandiri.

 

Kajian Mengenai Penggunaan Modul Pembelajaran

Modul merupakan satu unit program belajar mengajar terkecil yang unsur-unsur modul terdiri dari pedoman guru, lembar kegiatan siswa, lembar kerja, kunci lembar jawaban, lembaran tes, kunci lembaran tes, Joseph Mbulu (dalam Fatrima Santri. 2019:8).

Berdasarkan penelitian Fhina Haryanti dengan judul Pengembangan Modul Matematika Berbasis Discovery Learning berbantuan Flipbook Maker untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep pada Materi Segitiga. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan modul matematika yang dikembangkan lebih baik dibandingkan dengan model konvensional pada proses pembelajaran karena dapat meningkatkan rata-rata hasil belajar siswa. Penelitian yang dilakukan Ketut Suastika dengan judul Pengembangan Modul Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kontekstual, diperoleh hasil bahwa dengan adanya modul siswa dapat memahami konsep pelajaran dengan baik sesuai dengan gaya belajarnya sendiri. Penelitian yang dilakukan oleh Annisah Kurniati dengan judul Pengembangan Modul Matematika Berbasis Kontekstual Terintegrasi Ilmu Keislaman, menunjukkan bahwa pembelajaran matematika yang menggunakan modul lebih baik dibandingkan kelas yang tidak menggunakan modul.

Berdasarkan penelitian yang  relevan  yang  pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan modul sebagai bahan ajar pada pembelajaran matematika tepat dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan menjadikan pembelajaran lebih efesien dan efektif. Sehingga, dari penelitian tersebut dapat dilakukan sebuah penelitian kualitatif mengenai Pengembangan Modul Matematika Berbasis Kontekstual Terintegrasi Kearifan Lokal Purworejo pada Materi Pengukuran Kelas II di SD Muhammadiyah Bayan.

 

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah metode kulitatif deskriptif studi kepustakaan. Metode penelitian kualitatif yaitu suatu prosedur penelitian yang menggunakan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang dapat diamati. Kualitatif berarti sesuatu yang berkaitan dengan aspek kualitas, nilai, atau makna yang terdapat dibalik fakta. Libarnkin & Kurdziel (dalam Muh. Fitrah & Luthfiyah. 2018:44). Sedangkan menurut Indriantoro (dalam jurnal Tio Fanny. 2016) Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang lebih menspesifikasikan kepada pemahaman atas masalah-masalah sosial berdasarkan keadaan riil yang bersifat kompleks dan rinci. Metode deskriptif merupakan metode yang berfokus pada meneliti sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu pemikiran, ataupun suatu peristiwa pada masa sekarang yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan secara akurat, faktual, serta sistematis tentang fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diteliti. Studi kepustakaan berarti teknik pengumpulan data dengan membuat studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan berhubungan dengan masalah yang diteliti. Zed, (dalam jurnal Tio Fanny. 2016). Alasan bagi peneliti untuk menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif studi kepustakaan ini karena landasan untuk melaksanakan penelitian kualitatif berorientasi pada teori yang sudah ada sebelumnya.

 

Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam artikel ini menggunakan data primer dan sekunder yang diperoleh dari fakta yang tersimpan dalam bentuk jurnal, artikel, thesis, buku elektronik dan sebagainya yang semuanya itu memberikan informasi yang lebih luas bagi proses penyusunan artikel. Langkah-langkah studi kepustakaan (Amelia Zulyanti & Nurliana. 2019:48) meliputi: 1) formulasi permasalahan. Memilih topik yang sesuai dan interest. Permasalahan ditulis dengan lengkap dan tepat. 2) menemukan literatur yang relevan dengan penelitian. 3) evaluasi data. 4) analisis dan interpretasikan.

 

PEMBAHASAN

Artikel ini disusun menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan studi literatur atau kepustakaan. Data dalam artikel ini diambil dari fakta-fakta yang tersimpan dalam bentuk jurnal, artikel, buku elektronik dan sebagainya yang semuanya itu memberikan informasi yang lebih luas bagi proses penyusunan artikel. Berdasarkan analisis data terhadap pengaruh pengembangan modul pembelajaran khususnya modul matematika dalam upaya untuk peningkatan kualitas hasil pembelajaran oleh beberapa peneliti sebelumnya. Didapatkan hasil bahwasannya modul matematika yang dikembangkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dibandingkan model pembelajaran konvensional yang tidak menggunakan modul dalam pembelajarannya. Jadi, tepat rasanya jika nantinya penulis akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan modul matematika dengan memberikan beberapa inovasi dalam modul tersebut agar pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan. Inovasi tersebut diperlukan karena matematika masih menjadi pelajaran yang dianggap sulit dan menakutkan bagi kebanyakan peserta didik, sehingga berpengaruh pada kurang maksimalnya hasil pembelajaran yang didapat. Salah satu langkah inovasi yang akan penulis lakukan dalam rangka pengembangan modul tersebut adalah dengan mengangkat kearifan lokal untuk diintegrasikan ke dalam modul matematika yang akan dikembangkan. Pentingnya penanaman sikap cinta terhadap produk dan budaya lokal agaknya penting untuk digalakkan sejak dini. Mengingat saat ini banyak generasi muda yang lebih memilih budaya barat dibandingkan budayanya sendiri (dikutip dari kompas.com: 21 Mei 2019). Beberapa bahkan kurang peduli terhadap kearifan lokal yang dimiliki oleh daerahnya sendiri. Itulah mengapa penulis tertarik untuk mengangkat kearifan lokal dalam pengembangan modul matematika sebagai upaya untuk mengenalkan peserta didik terhadap kearifan lokal yang mereka miliki dan penanaman rasa cinta terhadap produk dan budaya lokal yang daerahnya miliki.

Modul yang dikembangkan tersebut nantinya akan memasukkan unsur-unsur kearifan lokal khas Purworejo yang dibuat dalam bentuk kartun yang diintegrasikan dengan materi pengukuran untuk kelas II sekolah dasar. Modul dibuat dengan pendekatan kontekstual dengan menghadirkan cerita-cerita singkat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pemilihan pendekatan kontekstual dimaksudkan agar peserta didik dapat belajar sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan mereka, sehingga diharapkan peserta didik akan dapat menemukan penyelesaian dari masalah-masalah yang mereka hadapi. Cerita dalam modul tersebut dibuat dengan sedemikian rupa disesuaikan dengan dunia anak agar peserta didik semakin tertarik dengan modul yang dikembangkan. Bahasa yang digunakan dalam modul tersebut nantinya dibuat sesederhana mungkin sehingga peserta didik dapat dengan mudah memahami materi yang sedang ia baca atau pelajari. Bahasa yang dibuat sederhana tersebut juga memungkinkan peserta didik untuk memahami materi secara mandiri. Materi dalam modul tersebut adalah materi tentang pengukuran, yakni panjang, waktu, dan berat. Materi-materi tersebut diintegrasikan dengan kearifan lokal khas Purworejo dengan menggunakan cerita anak sebagai penghubungnya. Jadi, nantinya modul tersebut memungkinkan peserta didik untuk tanpa sadar belajar dua hal yang berbeda. Semua ilustrasi dan gambar dibuat semenarik mungkin dalam bentuk gambar kartun dua dimensi. Penggunaan kartun diyakini dapat meningkatkan minat baca peserta didik dan membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan analisis data terhadap pengaruh pengembangan modul pembelajaran khususnya modul matematika dalam upaya untuk peningkatan kualitas hasil pembelajaran oleh beberapa peneliti sebelumnya. Didapatkan hasil bahwasannya modul matematika yang dikembangkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dibandingkan model pembelajaran konvensional yang tidak menggunakan modul dalam pembelajarannya. Sehingga, tepat rasanya jika nantinya penulis akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan modul matematika dengan memberikan beberapa inovasi dalam modul tersebut agar pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan. Diantaranya inovasi yang akan penulis lakukan dalam rangka pengembangan modul tersebut adalah dengan mengangkat kearifan lokal khas Purworejo untuk diintegrasikan ke dalam modul matematika yang akan dikembangkan. Modul dibuat dengan pendekatan kontekstual dengan menghadirkan cerita-cerita singkat yang menarik berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa.

 

Saran

Beberapa penelitian yang telah penulis paparkan dalam artikel ini menunjukkan bahwa pengembangan modul yang dilakukan beberapa peneliti sebelumnya dapat meningkatkan hasil pembelajaran. Oleh karenanya penelitian tersebut dapat dijadikan rujukan atau dasar untuk menambah pengalaman maupun pengetahuan baru dalam mengembangkan media pembelajaran guna meningkatkan kualitas pembelajaran itu sendiri.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Amelia Zulyanti & Nurliana. 2019. Strategi dan Teknik Penulisan Karya Tulis Ilmiah dan Publikasi. Yogyakarta: Deepublish

Annisah Kurniati. 2016. Pengembangan Modul Matematika Berbasis Kontekstual Terintegrasi Ilmu Keislaman. Vol.4, No.1

Arkanudin, dkk. 2019. Perempuan Madura: Kearifan Lokal dalam Perawatan Reproduksi Pasca Nifas (Studi di Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat). Yogyakarta: Deepublish

Fatrima Santri. 2019. Pengembangan Modul Pembelajaran Aljabar Elementer di Program Studi Tadris Matematika IAIN Bengkulu. Bengkulu: CV. Zigie Utama

Fhina Haryanti. 2016. Pengembangan Modul Matematika Berbasis Discovery Learning berbantuan Flipbook Maker untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep pada Materi Segitiga. Vol. I, No. 2

Hani Handayani. 2015. Pengaruh Pembelajaran Kontekstual terhadap Kemampuan Pemahan dan Representasi Matematis Siswa Sekolah Dasar. Volume I Nomor 1

Ketut Suastika. 2019. Pengembangan Modul Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kontekstual. Volum 4 Nomor 2

Maria Matildis Banda. 2016. UPAYA KEARIFAN LOKAL dalam Menghadapi Tantangan Perubahan Kebudayaan. Jurnal Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.

Muh. Aris Marfai. 2019. Pengantar Etika Lingkungan dan Kearifan Lokal. Yogyakarta: UGM Press

Muh. Fitrah & Luthfiyah. 2018. Metodologi Penelitian: penelitian kualitatif, tindakan kelas, dan studi kasus. Sukabumi: CV Jejak (Jejak Publisher)

Tio Fanny Aritonang. 2016. REVIEW IMPLEMENTASI TAX AMNESTY (Studi Literatur Implementasi Tax Amnesty di Indonesia dan di Beberapa Negara Lainnya). Volum 4 Nomor 2

Tri Hidayati. 2018. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika dengan Suplemen History of Mathematics. Purwokerto: CV. Pena Persada

Komentar